"Kado Liano" (cerpen)



(Based on the true story…hehe)
By. GUSTY P.

Pertemuanku dengan Nia terjadi secara kebetulan. Saat itu, ketika sedang ada acara penerimaan anggota asrama yang baru, aku secara tak sengaja duduk berdampingan dengan gadis itu. Aku canggung ketika melihatnya, tetapi sebenarnya aku jatuh hati padanya. Dia adalah gadis yang tidak biasa bagiku. Bukan saja karena rambut panjang seperti model iklan shampoo di TV. Bukan juga karena hidung mancung dan body aduhai seperti gadis Timur Tengah yang lihai dengan tari perut yang banyak disukai pengurus negeri ini ketika studi banding ke luar negeri. Bukan kawan! Bukan karena itu saja. Aku suka padanya karena ia ramah dan santun kepada siapapun. Ia pasti gadis terdidik dan pintar merawat diri. Ia mirip ibuku di kampung. Kurang-lebih begitu.
Malam itu, aku kembali bersua dengan gadis itu. Ia datang ke biara untuk sekadar kunjungan dengan teman-temannya. Bukan main debar jantungku ketika bertemu lagi dengannya.  Kupandang sedikit malu-malu. Sesekali aku menoleh ke tempat lain, ketika sesekali juga ia memandangku. ‘Pura-pura’, kata yang tepat untukku saat itu. Sepertinya gadis itu tahu aku sedang memandangnya. Aku duduk di pojok dekat tiang di bawah gazebo yang terletak di tengah biara.  Gazebo yang menjadi tempat kami berkreasi dan berbagi cerita dengan teman-temanku. Tempat kami bersenandung lagu apapun untuk menghibur diri. Dari tembang “Kelambu Biru” Meggi Z hingga “Waka-Waka”, lagu piala dunia 2010 yang dilantunkan Shakira. Tempat kami berteriak sekeras-kerasnya karena di tempat lain kami harus ber-silentium. Tempat ini seperti arena balas dendam. Gazebo ini salah satu nadi hidup kami.
          Aku kembali memandangnya. Sempurna. Ini tipeku. Nadiku bergemuruh. Menyatu dengan sebuah perasaan yang aneh, yang sulit kujelaskan dengan bahasa manapun. Aku berniat mengenalnya lebih jauh, tapi aku belum terbiasa. Empat tahun di seminari membuatku kikuk berbicara dengan perempuan. Apalagi dia ini istimewa. Beda. Mengagumkan dan mengoyak hatiku. Tiba-tiba ia berdiri, sebentar merapikan t-shirt bertulis ‘love’ agak ketat yang dipakainya. Aku pura-pura tak melihat, menoleh ke tiang gazebo yang tepat berada di sampingku dan menuliskan sesuatu pada tiang itu dengan jari-jemariku. Tak tahu apa yang kutulis dan tak peduli juga dengan sisik-sisik  kayu  tiang itu yang sedikit menusuk. Namun, aku berusaha menguntitnya. Ia beranjak pergi.
  “Yahh…ia sekarang pergi” gumamku kecewa.  Aku cepat menoleh, tak ingin membiarkan dia pergi begitu saja tanpa aku melihatnya. Namun aku kaget bukan kepalang. Gadis itu berdiri tepat di hadapanku. Aku diam dan gemetar. Napasku tersengal seperti baru saja dikejar anjing gila. Badanku panas-dingin, seperti orang yang terserang malaria tropika akut stadium 4. Aku tak bisa berpura-pura lagi. Wajahku pucat pasi ketika ia hendak mengatakan sesuatu. Tak tenang, bingung, tak tahu harus berbuat apa.
   “Selamat malam. Boleh saya duduk”? sambil tersenyum ia mengajakku berbicara. Aku tak menjawab. Suaranya membuatku gelagapan. Tetapi senyum dari bibirnya yang merah merekah membuatku berani.
  “Namaku Liano” aku memperkenalkan diri. Teman yang duduk di sampingku cekikikan-sinis, sambil mendekatiku, ia berbisik.
  “ Namanya keren kawan. Tapi ia tidak bermaksud berkenalan” .
Ia memberitahuku sekaligus mengejek. Wajar, karena di kampung aku biasa dipanggil Largus, “Largus Merantau” nama lengkapku. Nama yang jelek kawan. Aku gemetar dan semakin berkeringat. Gadis itu tetap tersenyum. Ia tahu maksudku.
  “Aku Nia”. Tak lama kemudian ia pamit pulang.

*****   .
          Suatu hari, ketika aku sedang asyik membaca novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata, seorang teman yang bernama Jefry mau menolongku. Ia menawarkan diri menjadi ‘jembatan’ hubungan kami.
  “Ada berita bagus kawan!” Aku tak menggubrisnya.
  “Ini tentang Nia” aku terperanjat.
  “Minggu depan, hari Senin, tanggal 7 Maret, Nia ulang tahun. Inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanmu padanya” sambungnya.
Jefry dikenal sebagai teman yang setia membantu. Pria jangkung dari ujung Sulawesi ini dikenal murah senyum dan panjang sabar. Di sekolah menengah dulu ia dikenal sebagai ‘playboy cap kampung”. Puluhan perempuan telah ditaklukannya. Jurusnya cuma satu, terus tersenyum. Maka tak ada alasan untuk  menolak tawarannya. Dialah satu-satunya teman angkatanku yang bisa diandalkan dalam masalah cinta. Apalagi masalah cinta pandangan pertama seperti yang kualami. Baginya, ini masalah kecil. Aku sangat yakin kalau aku tak salah mempercayai orang.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Jefry mulai menawarkan beberapa ide. Ia menyuruhku menuliskan surat cinta untuk Nia dan diberikan pada saat ulang tahunnya nanti. Kemudian, ia menawarkan pilihan kedua,yaitu  segera menyatakan cintaku kepada Nia secara terbuka sebelum hari ulang tahunnya, sehingga saat Nia ulang tahun aku bisa mentraktir bakso urat yang berada tepat di depan biara. Dan ide ketiga, Jefry mengusulkan untuk membeli setangkai mawar dan aku datang sebagai tamu istimewa pada saat ulang tahunnya nanti. Kehadiranku adalah surprise untuk Nia dan mawar itu sebagai ungkapan perasaan cintaku padanya.
Semalaman mataku enggan terpejam. Terlebih karena ketiga ide ‘gila’ Jefry yang sama sekali tak menarik. Menuliskan surat cinta memang baik tetapi terlalu kuno dan kekanak-kanakan.
“Seperti ketika SMP saja” pikirku. Usul kedua sedikit romantis, tetapi mentraktir bakso urat seharga tujuh ribu rupiah sama sekali tak bergengsi. Dan ketiga, sangat romantis tetapi terlalu sinetron. Usul ini mengandaikan kalau Nia tak punya pacar. Jika tidak, tak terkira malu yang harus kutanggung.
    “Hmm.. Jefry terlalu banyak menonton Film Televisi”.
***
Setiap hari aku selalu memikirkan cara dan berusaha mencari inspirasi dari apapun yang kutemukan dalam keseharianku di biara. Makan tak makan, pikiranku cuma satu: bagaimana menaklukan hati wanita yang membuatku kelapak-kelapak seperti ayam tersayat pisau pemotong di pasar. Dari Teka-Teki Silang, kata-kata mutiara Kharil Gibran, hingga buku-buku filsafat dan teologi tak terlewatkan untuk kubaca. Bahkan Kidung Agung Salomo kubaca berulangkali. Aku yang malas membaca buku, kini sibuk seperti seorang peneliti muda yang sedang menyelesaikan desertasi doktoralnya.
          “Ahh.. ide yang cemerlang” aku memuji diriku sendiri. Akhirnya aku menemukan ide untuk mengungkapkan perasaan cintaku padanya. Bukan surat cinta yang kekanak-kanakan, bukan mentraktir bakso urat yang tak bergengsi, bukan juga dengan gaya ‘romantic love’ ala Jefry dengan sekuntum mawar. Aku akan memberikan kado dan sepucuk surat yang akan kutulisi dengan sebuah puisi yang indah.
    “Tapi, kado apa?” kubertanya pada diriku sendiri.
    “ Cokelat kawan, cokelat. Cewek  akan mengerti perasaanmu ketika engkau menghadiahinya cokelat. Aku sering melihat itu dalam film-film cinta orang Barat“ Anto, teman sekamarku mencoba memberikan usul. Sepertinya Anto tahu aku sedang bingung.
    “Wahh.. mantap To” sahutku.
Perpaduan puisi dan cokelat adalah ide yang luar biasa. Jujur kawan! Di kampung aku belum pernah sekalipun makan cokelat. Tapi tak apa, demi cinta pertamaku, demi gadis impianku. Bukan hanya itu, aku tertarik karena ia menyebut “orang Barat”. Sepertinya cukup beradab dan lebih modern kalau aku menghadiahi Nia dengan cokelat.
    “Ini soal harga diri juga” pikirku.
          Malam itu aku berusaha menulis puisi yang akan kuberikan untuk Nia. Cecak di dinding dan nyamuk yang beterbangan kupaksa bicara untuk memberi ide tentang puisiku. Namun tak ada yang menyahut. Mereka hanya terpelongo melihatku. Mungkin saja mereka ingin sekali menyebutku ‘gila’. Ya, gila karena perasaan yang tak karuan, yang tak bisa kujelaskan dengan bahasa manapun. Tetapi perasaan ini sekaligus membangkitkan semangat hidup yang selama ini terasa monoton dan membosankan. Kureka ulang peristiwa pertemuanku dengan gadis itu. Kuingin getaran pertama itu memberi nilai dan cita rasa pada puisi yang kutulis.

Ahh…Cantik

Rambutmu gerai terurai—menawan hati
Kamu tahu, kalimat ini kudapatkan dengan tak berhenti bermeditasi sejak pertama kali aku mengenalmu
Matamu biru merona—seperti mata anak kijang
Kalimat ini kudapatkan dengan susah payah—berguru pada seorang romo dan filsuf muda di tempat aku belajar
Senyum manismu—membuat anak mataku binar menatap
Inilah intisari dari semua buku yang telah kubaca selama ini
Ahh…cantik
Hanya ini warisan moyangku

          Inilah kalimat-kalimat yang kusebut puisi. Kawan! Jangan kau tanyakan puisi ini jenis apa. Jangan juga tanyakan memakai irama apa. Apapula kau tanyakan mengapa memakai catatan kaki. Satu hal yang penting bagiku adalah bahwa semua perasaan, rasa kagum,  getaran hati, dan rasa cintaku pada gadis itu sepertinya tercurah seluruhnya pada puisi ini. Kalimat kedua dalam setiap baris yang kelihatan seperti catatan kaki kutambahkan untuk lebih meyakinkan Nia bahwa aku serius jatuh cinta padanya. Malam itu aku tertidur lelap. Satu karya terindah yang akan kupersembahkan untuk seorang gadis pujaanku selesai sudah.
***
          Selepas gereja aku sempat mampir di mall terdekat untuk membeli perlengkapan kado. Aku juga mengajak Jefry.
   “Wahh.. mahal sekali” aku terperangah sambil berbisik kepada Jefry. Untuk ukuran kami harga cokelat sangat mahal. Sebungkus cokelat bisa menghabiskan lebih dari separuh uang saku.
   “Ya kawan. Tapi semua ini demi Nia. Kamu harus memberikan yang terbaik untuknya”, sahut Jefry sambil menunjukan cokelat import asal Belgia. Kali ini aku setuju dengan Jefry, aku harus memberi cokelat yang terbaik.
   “Toh.. ini cuma sekali”pikirku.
          Malam, sehari menjelang Nia ulang tahun, aku mulai meramu kado yang akan kupersembahkan untuknya. Puisi kutuliskan dengan huruf ‘tali’ yang indah pada selembar kertas surat yang sengaja diberikan  Anto. Pena ‘Boxy’ dipinjamkan Romo rektor dengan dalih untuk menulis khotbah pertamaku. Di sudut kanan bawah, aku menambahkan;

‘maaf, bila ada kata-kata yang tidak berkenan, mohon dirahasiakan.
“Pengagummu”
=Liano=

          Aiih…Sopan sekali. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Nia ketika membaca puisinya. Coklat sebagai hadiah istimewaku ditata rapi dengan bungkusan khusus, diikat dengan pita merah dengan bagian atas dianyam mirip bunga mawar yang sedang mekar. Luar biasa. Dibagian pinggir, memanjang coklat itu, kutuliskan, “Terimalah persembahkan hatiku ini”. Puisinya diletakan tepat berada di atas bungkusan coklat dan digulung mirip surat wasiat kerajaan yang sangat rahasia. Kemudian kusemprotkan sedikit parfum ‘Napoleon’ sebelum kado itu tertutup rapat, agar ketika Nia membukanya, ia mencium harum mawar yang memikat. Jefry tersenyum, sambil  mengacungkan jempol ia memujiku;
   “Mantap kawan! Aku terharu.”
Aku ikut tersenyum.
   “ Terima kasih” balasku.
    “Tolong, jangan sampai teman-teman tahu, apalagi Romo Rektor”.  Aku tahu cinta ini berisiko. Memilih hidup menjadi biarawan Katolik tak akan pernah boleh menikah.
Sepanjang malam aku membayangkan bagaimana Nia akan menerima kado itu, membukanya, mencium harumnya mawar ‘Napoleon’. Aku membayangkan raut mukanya yang manis ketika menemukan puisi terindah tulisan tanganku, membacanya sambil tersenyum dan mencium puisi itu berulang-ulangkali dan mendekapnya di dada sambil menutup mata. Betapa girangnya Nia ketika ia tahu aku mencintainya. Aku membayangkan bagaimana ekspresi Nia ketika menemukan cokelat istimewa yang kupersembahkan padanya. Ia tak akan menghabiskan cokelat itu. Ia akan menatanya di sebuah etalase khusus di kamar tidurnya dan meletakkan puisi terindah dariku di atas cokelat itu agar setiap saat ia bisa melihatnya dan mengingat segala yang telah kuberikan padanya. Ia tak akan berpikir lama. Ia akan langsung menemuiku di biara dan akan menghabiskan banyak waktu bercerita denganku.
Hmm…belum tahu kau gadis! Pasti kau ketar-ketir dengan karya terbaikku. Ia akan terhipnotis kawan! Waah…menakjubkan cinta pertama ini. Kemudian aku terlelap dalam rengkuhan malam yang menyejukan.
          Hari ini, Senin, tanggal 7 Maret, Nia ulang tahun yang ke-19. Langit terlihat bersih pertanda tak akan turun hujan. Bahkan awan hitam yang biasa mengumpul di ufuk barat hilang tak membekas. Sepertinya cuaca menyatu dengan suasana hatiku. Jam 7 malam ini Nia akan merayakan hari ulang tahun dengan teman-temannya. Jefry telah mendapat undangan dan menjadi pengantar kado dariku. 
***
Harapan tinggal harapan. Khayalan hanya seperti mimpi siang bolong yang hanya sebentar menghibur. Tak ada tanda-tanda dan reaksi apapun. Semuanya seperti tak terjadi apa-apa. Jefry juga hanya bilang “sabar dan tunggu saja”. Sudah tiga bulan aku telah mengirimkan kado untuknya. Selama tiga bulan aku terkatung-katung menanti jawaban. Rupanya sia-sia sudah, karena  dua hari lagi kami akan berangkat ke Jakarta. Aku berharap Nia akan datang menemuiku untuk terakhir kalinya, bukan untuk memberi jawaban cinta seperti yang kuharapkan tiga bulan yang lalu. Aku hanya ingin kepastian. Aku hanya butuh respon seorang wanita yang pernah kukagumi. Namun, aku pergi tanpa jawaban. Sadis kawan!
Hatiku terus mengumpat gadis itu. Bagiku ia adalah gadis paling egois yang pernah aku temui selama hidupku. Ia cantik tapi balagu, sama sekali tidak menghormati perasaan orang lain. Ingin aku menuliskan surat lagi untuknya. Surat caci maki dan sakit hati. Namun, tak ada gunanya.
Aku berniat untuk curhat dengan Jefry, teman yang selalu membantuku selama berhubungan dengan gadis egois itu. Siang itu aku mendatangi Jefry, tetapi dia memintaku untuk datang ke kamarnya.
“Kamu duluan ke kamarku, nanti aku menyusul. Aku masih ada kerjaan” jawabnya singkat. Sudah 15 menit aku menunggunya di kamar. Untuk mengusir kejenuhan, aku melihat-lihat foto yang ditaruh agak berantakan di rak bukunya. Kutengok satu persatu. Aku terkejut, foto Nia ada di antara tumpukan itu. Aku semakin penasaran, kucoba membongkar tumpukan kertas yang ada di sampingnya. Selembar kertas jatuh dari antara kertas-kertas itu. Lembaran itu berisi ‘puisi cinta’ yang kutulis dengan susah payah. Bahkan pita pengikat kertas masih utuh melekat pada puisi itu.
“ Aiiih….tega nian kau kawan!”


“Kawan! CINTA bukan hanya milik mereka.”
Jakarta, 2010



0 komentar:

Blogger Template by Blogcrowds