Yessi (cerpen)



By. Gusty P.

Hampir lewat tengah hari. Matahari kelihatan tak seceria kemarin. Awan sesekali menutup pandangannya. Menghalangi sinarnya yang menerangi wilayah Galilea dan sekitarnya. Awan hitam itu berarak-arak menuju barat. Berhenti tepat di pucuk Gunung Karmel. Ia menanti uap-uap air Laut Tengah yang sejak pagi dipanggang mentari. Kemudian meminta restu senja dan angin Tenggara, sebelum menumpahkan titik-titik air ke bumi, menyirami Galilea, Samaria, Yudea, hingga Idumea. Hujan agak lebat.
Entah sejak kapan aku telah bersahabat dengan hujan, malam yang dingin, kesunyian, kambing domba, bahkan bertaruh nyawa dengan binatang buas di padang. Aku sangat menikmati pekerjaan ini. Menjadi seorang gembala membuatku bangga karena saudaraku dan teman-temannya pernah menyaksikan sebuah peristiwa penting selama menggembalakan kambing- domba di padang. Dulu, ketika keluargaku menetap di Betlehem, para gembara—saudaraku dan teman-temannya-- menjadi saksi kunci peristiwa itu. Kini saudara tuaku telah pergi, mewariskan tugas terhormat, menggantikannya  untuk menjadi seorang gembala. 
***
Hari ini aku kembali ke Nazaret, mengunjungi orang tua dan saudara-saudaraku. Di ujung kampung, beberapa anak bergerombol. Sepertinya sedang terjadi perkelahian. Dua di antara bocah-bocah itu tak berhenti berkata-kata. Membela diri, bahkan sesekali saling memegang kerah baju temannya. Di samping mereka, berdiri seorang bocah lain dengan kepala berdarah. Dia mengusap-usap kepalanya sambil berusaha menenangkan dua temannya yang tak pernah diam. Rupanya dia berusaha menjadi penengah, tapi justru menjadi korban pertengkaran itu.
Seorang bocah lain yang tengah berjalan memikul sebuah kursi kayu berhenti. Mendatangi kerumunan itu.  Suasana sejenak hening ketika  ia mendekati mereka. Bocah itu memegang kepala temannya yang berdarah. Arya dan Raine diajaknya berdamai. Kakak beradik itu merangkul dan saling meminta maaf. Kerumunan yang semula mencekam karena perkelahian itu, kini berakhir dengan canda tawa yang akrab. “Ahh….dasar anak-anak”, celetukku. Kuacuhkan anak-anak itu. Aku bergegas ke rumah. Segera ingin bertemu keluarga yang selalu kurindukan. Aku yakin mereka juga merindukanku, seperti aku merindukan mereka.
Seperti biasa, ayah dan ibu bahagia ketika aku pulang ke rumah. Mereka bercerita banyak hal tentang situasi terakhir kampungku. Banyak hal menarik yang terjadi. Terutama cerita seputar seorang remaja yang dikenal baik, ramah, santun dan pandai memperbaiki berbagai perabot rumah tangga yang rusak. Ia sangat dikagumi banyak orang walaupun ada orang juga  yang tidak suka dengannya. Banyak yang mengejeknya, apalagi ia dikandung sebelum ibunya resmi menjadi istri ayahnya. Namun, tak pernah ia sakit hati. Ia tetap menjaga senyumnya, dan mengajak teman-temannya untuk  bermain bersama. Bahkan ia menjadi pujaan gadis-gadis remaja di Nazaret, termasuk Avera tetangga rumahku, gadis yang sedang dalam masa akil balik.
“Untuk anak seusianya, ia sangat cerdas. Pemahamannya tentang taurat sangat mendalam. Dia anak yang hebat dan belum pernah ada anak-anak sepertinya. Ia juga dikenal anak yang rajin membantu orang tuanya. Ia sudah pandai membuat perabot rumah tangga sederhana. Keluarganya hidup cukup dari hasil kerajinan ayahnya, yang sering mereka jual di pasar.” Demikian Abba menceritakan bocah itu dan keluarganya.
***
Hari ini agak cerah. Matahari kelihatan tanpa beban menyinari Nazaret. Asap mengepul perlahan dari setiap rumah, menembus atap dapur yang belum kering karena diguyur hujan sepanjang hari kemarin. Sinar pagi membelah kepulan asap, mengkilap seperti pedang yang baru selesai ditempa. Menyilaukan mata. Semua penduduk Nazaret menyambut hari itu dengan riang gembira. Bahkan binatang dan tetumbuhan berlomba-lomba memberi persembahan serta pujian kepada Sang Pengatur Waktu. Pemandangan yang mengagumkan. 
Jujur, setelah aku mendengar banyak kisah tentang anak itu, aku ingin sekali menemuinya. Aku penasaran juga sedikit kurang percaya dengan bocah itu. Namun, waktu cukup singkat. Pagi ini, aku harus balik ke padang untuk menemani hewan gembalaan yang kutinggalkan sejak kemarin. Aku menyempatkan diri ke Sinagoga untuk beribadat. Hal ini biasa kulakukan setiap kali aku pulang ke rumah.
Sinagoga adalah pusat kehidupan kami. Semuanya harus berawal dan berakhir di sana. Itulah sebabnya, orang-orang Yahudi marah besar kalau ada orang yang menghina atau bertingkah aneh di Sinagoga. Siapapun yang berani melakukan hal-hal tak senonoh di Sinagoga,  ia pasti akan dihina oleh seluruh penduduk, dikucilkan, bahkan dilempari batu hingga mati. Menghina Sinagoga berarti menghina YHWH yang tinggal di dalamnya.
Setelah berdoa, aku segera menemui imam Simen di belakang Sinagoga untuk menyerahkan persembahan. Sepertinya ia sedang sibuk melayani umat yang ingin bertanya banyak hal tentang taurat. Tetapi karena mengenalku, ia berdiri dan menyalamiku.
“Hai….Grotius selamat datang. Mari! Silakan masuk” ajaknya ramah menjemput kedatanganku.
Keramahan imam ini yang membuat aku merasa nyaman ke Sinagoga. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Sinagoga selalu ramai didatangi umat untuk berdoa. Mereka merasa sebagai umat yang dicintai, terutama karena pelayanan imam Simen yang baik dan rendah hati.
“Aku sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Kami banyak berdiskusi tentang taurat Musa yang akhir-akhir ini sering disalahartikan orang. Dia orang yang luar biasa dan aku selalu terkejut karena kecerdasannya. Pemikirannya selalu melampaui orang-orang seusianya. Bahkan beberapa hari lalu ia menghentikan demam tinggi yang diderita seorang ibu yang datang kemari. Aku tak habis pikir tentangnya” lanjut imam Simen menjelaskan.
Sepertinya aku pernah melihat bocah itu di ujung kampung kemarin.
“Yessi, ini Grotius, seorang gembala yang hebat yang sering mengalahkan singa di padang.  Dan Grotius, ini Yessi yang kuceritakan tadi” imam Simen memperkenalkan bocah itu kepadaku. Kami bersalaman. Anak itu tersenyum dan menunduk memberi hormat kepadaku.
          “Namanya Yessi. Tepatnya Yesus. Tetapi teman-teman biasa memanggilnya Yessi, Anak Tukang Kayu” serentak Yessi menoleh ke arah imam Simen. Keduanya saling menatap dan serentak tersenyum. “Ayahnya, Yoseph adalah tukang kayu yang handal. Dan  ibunya, Maria  adalah seorang wanita yang saleh” imam Simen menjelaskan asal usul bocah itu.
“Yessi, Anak Tukang Kayu”. Aku memanggilnya sambil tersenyum, kemudian merangkulnya sebelum aku berangkat ke padang. Ia balas tertawa kecil.


"Yessi, sebuah cerpen tentang Yesus masa kecil..".
 Rawa Domba, Desember 2010

0 komentar:

Blogger Template by Blogcrowds