"Geng dari Tarsus" (cerpen)


By Gusty P.
           Aku hidup dalam keluarga dan lingkungan desa yang harmonis serta dididik dalam tradisi Yahudi yang kental. Hampir tiga kali seminggu aku belajar taurat di rumah Hanai dekat Sinagoga. Hanai adalah guru taurat terbaik yang kukenal. Dari beliau aku belajar banyak hal tentang arti taurat dan bagaimana memaknainya dalam kehidupan sehari-hari.           Kampungku tepat berada di bawah kaki bukit pegunungan Libanon. Di depannya terhampar dataran luas sejauh mata memandang.  Di situlah hidup kami bergantung sepenuhnya. Dataran itu adalah tempat hidup bagi hewan gembalaan sebagian besar orang di kampungku, termasuk punya orang tuaku. 
***
           Subuh, sehari sebelum sabat, terdengar jeritan mengerikan dari kampung tetangga. Aku tersentak bangun dan berusaha mengintip dari ventilasi jendela rumah. Dari kejauhan tampak asap membubung tinggi dan pancaran nyala api yang menghanguskan. Sepertinya sebuah rumah hangus terbakar.
            “Mereka diserang kawanan perampok” terka Delfos, saudara sepupuku, yang kebetulan malam itu menginap di rumah.
           “Tak mungkin Delfos. Kau jangan mengarang”. Aku mambantah.
***
           Tiga hari kemudian, seorang pemuda datang membawa kabar dukacita. Ia menceritakan semua yang telah terjadi di kampungnya.
           “Mereka datang tiba-tiba. Mereka membunuh Baltison. Mereka menyeret istrinya dan kemudian membakar rumahnya” kisah pemuda itu berantakan.
            “Mereka hanya empat orang dan menamakan diri “Geng Dari Tarsus”. Tambahnya menutup kisah tragis itu.
           Aku sedikit mengenal Baltison. Ia beberapa kali diceritakan guru tauratku sebagai orang yang baik hati, suka berbagi, sedikit berpendidikan, suka menanyakan taurat, bahkan tanpa segan mengkritik. Akhir-akhir ini ia sedang bergabung dengan sebuah aliran baru yang berasal dari daerah Galilea.
           Hari itu adalah awal dari segala kejadian mengerikan. Dua minggu kemudian, aku mendengar khabar bahwa geng itu baru saja membantai sebuah keluarga pengikut aliran baru di Kapernaum. Sebuah keluarga, pengikut aliran itu dibakar hidup-hidup.
***
           Suatu hari, seorang musafir dari Yerusalem berkisah tentang geng itu.“Geng itu memang sangat mengerikan” musafir  itu memulai ceritanya.
            “Geng itu memiliki seorang pemimpin. Posturnya tinggi-kekar seperti seorang gladiator. Ia dan pasukannya selalu memakai baju jirah yang tak mempan pedang. Kepalanya selalu ditutupi topi kehormatan seorang perwira perang. Pedangnya terbuat dari baja pilihan dan ditempa orang-orang terlatih. Ia selalu menunggangi kuda jantan yang kuat dan terawat. Aku yakin ia sering berperang dan sudah mengalahkan ribuan pasukan musuh”. Musafir  itu diam sejenak, memandang orang di sekitarnya yang dengan antusias mendengar ceritanya. Tak ada satupun yang berani menyela. Aku sesekali menelan ludah membayangkan kengerian geng itu.
           “Ia lebih kejam dari pembunuh manapun. Bahkan  orang tak berani mengangkat muka atau menginjak bayangannya jika berjumpa. Namun aneh bagiku karena setiap sabat ia selalu mampir ke sinagoga untuk berdoa.  Bahkan banyak orang yang bersaksi bahwa kepala geng itu sangat pandai berbahasa Yunani dan Latin. Kadang-kadang ia menjelaskan isi taurat” musafir itu menutup ceritanya sambil melewati banyak orang lalu pergi.
Tetapi belum sempat kami berbincang-bincang mengenai geng itu, ia menoleh ke belakang dan memberi pesan terakhir.
“Berjaga-jagalah, kapan saja ia bisa singgah di rumahmu”.
***.
Tak pelak, seminggu kemudian geng itu melintas di kampungku.
           “Mereka sedang lewat!” teriak seorang anak sambil berlari menyembunyikan diri.
           Semua orang meninggalkan  pekerjaannnya, masuk ke dalam rumah dan menyembunyikan diri. Tak bedanya aku. Bergegas lari ke dalam rumah, kemudian mengintip, ingin melihat seperti apakah geng yang diceritakan banyak orang di Siria dan Palestina itu. Kampung itu mendadak hening seperti kampung mati tak bertuan. Hanya sesekali terdengar ayam berkokok dan suara binatang peliharaan lainnya. Napasku satu-satu. Jantungku berdebar,  merinding, keringat dingin penuh ketakutan. Kulihat Kinoy, anjing jagoan ayahku yang seringkali berhasil mengalahkan singa di padang duduk tepat di sampingku. Suara langkah kaki kuda sangat jelas terdengar. Sesekali meringkik dan mendengus.
           “Heiii! Apakah ada orang disini?” suaranya menggema menerobos setiap lorong di kampung itu. Kinoy meringis ingin menggonggong, tapi tak berani. Aku tak tahu mengapa ia begitu takut. Sepertinya aura geng itu menakutkan.
Karena tak ada yang menyahut, kepala geng itu berjalan mendekti pintu rumahku. Aku semakin takut, darahku seolah berhenti mengalir, napasku ngos-ngosan, aku menahan napas, ingin rasanya aku lari. Belum sempat ia mengetuk pintu, Kinoy menggongongnya. Ia kaget, mundur beberapa langkah, tangannya dengan sigap menempel di gagang pedang.
“Apakah ada orang di dalam?” teriaknya jengkel.
Karena takut ia naik pitam, aku bergegas keluar. Keringatku bercucuran, kakiku hampir tak kuasa menumpu badanku yang gemetar. Aku tertunduk, tak mampu mengangkat muka melihat wajahnya.
   “Ya tuan” jawabku singkat.
   “Siapa namamu?” tanyanya geram.
   “Andreas tuan” balasku takut.
  “Andreas, apakah engkau tahu di mana jalan ke Damsyik?” tanyanya dengan rasa ingin tahu.
           Dengan senang hati kutunjukan jalan ke kota itu. Di Damsyik banyak orang telah menjadi pengikut aliran baru yang dimusuhi geng itu. Hal itulah yang membuat geng itu bergegas ke kota itu. Setelah mereka meninggalkan kampungku dan mamacu kuda ke Damsyik, aku membayangkan kematian massal yang mengerikan yang akan menimpa orang-orang Damsyik. Geng itu akan membunuh mereka habis-habisan. Sebenarnya, ingin sekali aku memberitahukan orang-orang Damsyik tentang kedatangan geng itu. Aku mengharapkan agar mereka segera mengungsi atau menyembunyikan diri. Tapi sia-sia, karena kuda mereka lebih cepat dan terlatih.
***
           Hari ini genap tiga bulan aku tak mendengar kabar apapun tentang geng itu lagi. Tak ada tragedi pembunuhan yang mengerikan. Bahkan belakangan aku mendengar khabar tentang seorang pewarta keliling, seorang pengikut aliran baru. Semua orang mengagumi ajarannya, walaupun seringkali banyak pemuka agama yang membencinya. Pengikutnya semakin banyak. Ia sering diceritakan orang sebagai pemimpin berkharismatik yang pintar menarik perhatian orang. Ia telah menjadi buah bibir banyak orang di Siria dan Palestina. Aku sempat bertanya dalam hati, apakah ia tahu tentang keberadaan geng itu? Apakah ia tidak takut dengan geng itu?
           Kata orang, ia sering ke Antiokhia bahkan sampai berhari-hari untuk mengajar, mengurus pengikutnya bahkan untuk mejelaskan segala soal-jawab tentang taurat dengan pemuka-pemuka agama.  Tanpa menunggu waktu yang lama, aku segera berangkat ke Antiokhia. Dua hari kemudian aku sampai di Aktiokhia dan mendapati pria itu sedang mengajar banyak orang. Dia sangat luar biasa. Pengajarannya mengagumkan. Karena penasaran, aku  berani mengangkat tangan di tengah kerumunan orang banyak dan bertanya kepadanya.
           “Maaf guru. Aku ingin bertanya satu hal. Apakah engkau tak pernah mendengar tentang “Geng dari Tarsus” yang menakutkan? Bagaimana pendapatmu tentang geng itu?”.
Ia tertunduk seperti berusaha merenungkan pertanyaanku, kemudian menarik napas panjang dan mulai berkisah.
    “Ya, dulu kepala geng itu memang menjadi hamba dosa yang selalu memuaskan hati para penguasa yang diktator. Dia ditakuti banyak orang dan dia bangga dengan itu.  Tetapi sejak kejadian itu, dia berbalik dan memberitakan Injil Yesus Kristus yang hidup. Yesus telah menampakan diri kepadanya ketika hendak ke Damsyik. Sangat berdosalah ia kalau tidak memberitakan Injil”. Pria itu sejenak berhenti dan mengamati reaksi orang terhadapnya. Kemudian dengan tegap berdiri dan dengan lantang ia menutup pengajarannya hari itu.
“Aku, Paulus, kepala geng yang engkau maksudkan itu. Sekarang aku telah menjadi milik Kristus yang bangkit untuk memberitakan Injil”.




"Sepenggal kisah tentang Rasul Paulus"
(cerpen ini sudah diterbitkan di Majalah Rohani "HIDUP", 17 Oktober 2010)

0 komentar:

Blogger Template by Blogcrowds