Oleh: GUSTY P.
“Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, manusia takut akan sebuah kepastian. Sesuatu yang tak berhenti mengejarnya sampai di sudut manapun di dunia ini. Sesuatu yang pasti, menakutkan, dan yang tak dapat dielak itu bernama ‘Kematian’”.
Kawan! Kau pasti tahu seorang konglomerat yang paling tajir di republik ini. Sebahagian melihatnya sebagai orang paling berjasa yang membangun negara. Tak tanggung-tanggung, mereka menyebutnya pahlawan. Yang lain lagi mengenalnya sebagai orang paling korup yang memeras rakyat. Seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan vampire, mereka menyebutnya. Setiap orang punya pendapat sendiri tentang Pak Tua itu. Tetapi satu yang pasti, kekayaannya tak terhitung. Tanahnya dari Sabang sampai Merauke. Perusahaannya berdiri kokoh di mana-mana. Namun kini ia telah mati. Mati begitu saja. Tak ada yang bisa menghadang kematiannya. Bahkan harta segunung sama sekali tak berkutik ketika kematian menjemputnya. Ia mati seperti Harimo, brandal Pasar Rawa-Rawa yang dikenal “mental peluru dan tak mempan pedang”. Brandal itu mati bodoh, tersengat listrik di kakus rumahnya. Dengan sedikit air mata. Diiringi doa pura-pura. Dan selembar kavan membalut tubuhnya yang kaku.
Mati kawan! Ya..mati! Mati tak mengenal siapapun. Mati tidak kompromis. Mati tak bisa diajak KKN. Mati tak mengenal derajat dan martabat. Mati tak mengenal pintar dan bodoh. Kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, tua atau muda, cantik atau yang bertampang buruk. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kita diciptakan untuk mati. Hidup adalah sebuah penantian untuk mati. Apa yang kita lakukan di dunia selama hidup hanya untuk mengisi waktu luang sebelum dijemput kematian. Jatuh cinta, seks, menikah, berpesta ria, merayakan kesuksesan dalam studi, sepak bola, bernyanyi, studi banding ke luar negeri, dan lain sebagainya, hanyalah sekedar basa-basi sebelum sang kematian datang. Mati tak mengenal ruang dan waktu. Kematian bisa datang kapan dan di manapun. Tak ada yang bisa mengelak. Aiii….mengerikan!
Tetapi ada yang menghibur diri.
“Kita akan hidup lagi. Di dunia lain. Kehidupan kedua. Bersama Seorang Pengendali kematian. Tetapi, semuanya tergantung bagaimana kita hidup di dunia ini. Yang hidup baik akan tinggal bersama Sang Penguasa Kematian. Yang korupsi dan selalu hidup buruk akan dipanggang dalam api membara”. Hmm…kata-kata yang selalu menjadi isi khotbah khotib mushola dekat rumah.
Namun, tak ada satupun yang tahu seperti apa dunia kedua itu. Karena tak seorangpun pernah pergi dan kembali dari sana. Meskipun begitu, tak banyak orang yang berbuat baik. Korupsi malah makin meningkat. Kekerasan semakin bertambah. Membenci orang lain seperti sebuah kewajiban. Malahan banyak yang melarang untuk berdoa kepada Sang Penguasa Kematian. Tempat berdoa dipaksa tutup. Aneh…! Sungguh aneh!
Kematian datang begitu saja, seperti pencuri di malam hari. Lihat saja Babe, pengusaha kos-kosan yang ditimpa pohon lalu mati. Sementara mengendarai sepeda motor menuju kota untuk mengikuti wisuda anak satu-satunya. Lain halnya dengan Harun, guru Sekolah Dasar yang terantuk sepulang sekolah dan sekali mengerang kemudian mati. Bahkan ia sempat berbincang-bincang denganku sebelum peristiwa itu. Berbeda dengan Opa Ngatio yang sudah bertahun-tahun sakit. Keluar-masuk rumah sakit, tapi tak kunjung mati. Hartanya sudah tergerus. Kini yang tersisa hanya sebuah sepeda kumbang tua yang diparkir di belakang rumahnya. Setelah kematiannya, banyak orang bilang bahwa ia pantas mati. Sudah tua, sakit-sakit pula. Bahkan ia sendiri selalu merindukan kematiannya.. Tetapi ada banyak orang di negeri ini yang dibiarkan mati karena orang lain menginginkannya. Gas LPG gratis. Sejenis bom legal yang sengaja dibagi-bagi untuk mendatangkan kematian. Di satu sisi kita takut akan kematian, tetapi di lain sisi kita seperti merindukannya.
Baca Koran! Nonton TV! Semuanya mewartakan kematian. Cerita tentang kematian saudara-saudaraku di Wasior, Mentawai, dan Yogyakarta. Wasior tak pernah mengira bahwa semuanya akan berakhir dengan longsor mengerikan. Serentak diterjang longsor lalu mati seketika. Di Mentawai air laut mengamuk menenggelamkan rumah dan menghanyutkan banyak orang. Berbeda lagi dengan di Yogyakarta, kota pelajar dan kota wisata. Gunung ‘batuk’ (meletus) tak kunjung henti, menghamburkan awan panas yang memanggang apapun, juga manusia. Peristiwa yang me-masygul-kan hati orang banyak. Ada yang mati terlentang. Ada yang sementara berjongkok dan bersembah sujud. Ada pula yang mati saat lari dikejar kematian. Semuanya terjadi begitu saja. Tak ada yang bisa menghadangnya. Peristiwa yang membuat huru-hara hebat. Tetapi aneh, pengurus negeri ini malah leha-leha berjalan-jalan ke negeri Yunani dan Italia. Aku tak habis pikir, mungkinkah mereka tak tahu semua peristiwa ini? Jangan tanya padaku, tanya sama mereka sendiri. Sadis!
Aku merasakan ketakutan yang luar biasa ketika bertemu dengan kematian. Ia susah diajak bicara. Bahkan ketika sesekali kutanya bagaimana ia tega melakukan semua ini. Ia hanya menggeleng-geleng. Diam, tak mengatakan sepatah katapun tentang dirinya. Apakah ia sendiri juga tak mengerti ketika melakukan semua ini? Apakah ia seperti anjing penjaga yang selalu siap menerima perintah tuannya? Bagaimana mungkin ia sendiri tak tahu-menahu apa yang dilakukannya? Terakhir aku memaksanya bersuara. Tetapi ia tetap saja bungkam. Seperti memberi isyarat “jangan tanya padaku, tetapi tanyalah ‘orang’ yang menyuruhku. Aku datang seperti perampok yang menunggu tuan rumah tidur dan terlengah. Sekali ada kesempatan, tak akan kusia-siakan”.
Aku sudah lama merenung tentang semua ini. Bahkan sejak saat saudara-saudaraku di Aceh diterjang tsunami. Semakin aku merasa gagah dan pintar, aku semakin merasa perlu mencari arti semua perstiwa ini. Tak ada yang memberiku jawaban pasti. Bahkan khotbah khotib mushola yang kuceritakan tak pernah membuatku tenang. Tetapi akhirnya aku menemukan sendiri jawabannya. Tentang kepastian akan pencarianku. Tentang ketakutan akan sebuah kepastian, tentang kematian. Di depan kematian, kita bukanlah apa-apa. Harta kekayaan, jabatan dan kekuasaan, kecerdasan yang luar biasa, gagah ataupun cantik, semuanya membisu ketika berdiri di depan kamatian. Kematian mangasah hati dan nuraniku untuk mengakui sesuatu “Yang Lain” yang mempunyai kuasa akan kematian. Mungkinkah itu yang kita sebut-sebut sebagai ‘Tuhan’?
"Sebuah refleksi atas peristiwa kematian"
Jakarta, 26 Oktober 2010
Jakarta, 26 Oktober 2010
Label: cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar