"Gadis Nazareth" (cerpen)


               By. Gusty P.

            Hari ini aku kesal sekali. Kinoy tak bisa lagi membantuku mencegah singa peyot menerkam seekor anak domba beumur dua bulanan. Ia tak lagi sigap sejak tiga minggu lalu kaki belakangnya hampir raib ditelan singa tua di padang. Kini ia hanya bisa menggonggong. Rupanya kejadian itu membuat naluri pemberaninya ciut. Aku menunggangi Kaf, keledai dungu yang sulit sekali diajar. Bersamanya aku berputar mengelilingi kawanan kambing-domba milik orang tuaku. Sesekali aku melongok ke atas untuk mengamat-amati walaupun sabana-nya tak terlalu tinggi.
            “Seharusnya aku menunggangi kuda, bukan  keledai tengik ini” umpatku dalam hati.
Abba pasti memarahiku lagi. Ia tak akan menyalahkan Kinoy atau Kaf. Dimatanya seorang gembalalah yang seharusnya bertaruh nyawa untuk hewan gembalaannya. Aku memang pandai memanah dan melawan binatang buas jenis apapun bila harus melawan. Namun kambing-domba yang berjumlah ratusan dengan wilayah berbukit-bukit membuat para mangsa selalu berpesta mencuri gembalaanku. Apalagi mereka pandai mengatur siasat. Mereka memang ditakdirkan sebagai pemangsa. Lihat saja, anak domba itu baru kutemukan jejaknya di bawah pohon kurma. Itupun hanya kepalanya saja. Besok pagi sisanya pasti direbutkan burung nazar dan hewan lain yang kalah jauh jumlahnya dari keluarga para singa itu.
            Hari hampir gelap. Dari kejauhan nampak awan hitam menggumpal di sekitar pegunungan Karmel seperti payung tak berbentuk. Awan-awan itu selalu menggantung, menyimpan uap-uap air dari Laut Tengah dan menurunkan hujan yang membasahi wilayah sekitarnya. Aku berusaha menggiring gembalaanku menuju kandang tanpa atap yang sudah ada sebelum aku dilahirkan. Roti beragi, sisa bekal makan siang sengaja kutinggalkan di atas bukit untuk jamuan hewan-hewan malam dan burung-burung pemakan biji di esok hari.
            “Bagaimana gembalaanmu hari ini?” tanya Abba. Kalimat ini selalu menjadi menu pembuka setiap kali aku pulang dari penggembalaan. Ia tidak pernah menanyakan keadaanku, kesehatanku, hidupku, masa depanku, mimpi-mimpiku. Baginya anak penggembala tak punya mimpi.       
“Domba jantan yang berumur dua bulan, yang lahir di bukit sebelah itu diterkam singa” jawabku singkat dan jelas.
            “Zebod!!!” ia berteriak dan menghentakku dengan memanggil nama ejekan yang biasa dipanggil teman-temanku. Namaku sebenarnya adalah Zebedeus.
            “Gembala macam apa kau ini? Tiap minggu kita selalu kehilangan domba dan kambing. Minggu lalu dua ekor, bulan lalu lima ekor, sekarang satu ekor, bisa jadi akhirnya kita tak punya peliharaan lagi” ia mulai naik pitam. Kumis tebalnya naik-turun sambil mulutnya berceloteh mengumpatku. Serentak Kinoy meringis seperti kedinginan karena hujan. Sesekali ia menoleh kepadaku memberi isyarat. Aku tahu maksudnya. Ia mencoba membelaku dan berusaha memberi penjelasan bahwa ini murni kesalahannya. Aku mengangguk sambil mengusap kepalanya.
            “Terima kasih kawan” aku memeluknya. Ia balas menggongong sambil mengibaskan ekornya.
            “Besok, adikmu, Alfena, akan menggantikanmu menggembalakan kambing-domba di padang. Sedangkan kau akan ke pasar menjual beberapa ekor untuk kebutuhan kita bulan ini.  Apalagi musim paceklik semakin dekat. Jangan lupa bawa serta keledai dungumu itu untuk mengangkut gandum”. Sepertinya Abba mulai kesal denganku.  Sebagai anak sulung dalam keluarga, seharusnya memang bisa menggantikan posisi orang tua serta memberi teladan yang baik kepada adik-adik. Tetapi kejadian akhir-akhir ini yang selalu menimpa keluarga kami. Mulai dari kepergian Rhyam, ibu tercinta, petugas sinagoga yang selalu menagih persepuluhan, sampai pada ejekan para tetangga sebagai orang asing di  Nazareth membuat Abba pening.

*****
            Di pasar, para penjual tampak hiruk-pikuk menjajal barang dagangannya. Penjual kain berseleweran dimana-mana. Mereka kebanyakan berasal dari daerah Arabia. Para pemuja seni asal Yunani tak ketinggalan berteriak menawarkan patung-patung hasil pahatannya. Di sudut lain, seorang pengemis buta terus menanti recehan dari setiap orang yang lewat meninggalkan pasar. Di tengah keramaian sangat jelas kelihatan dua orang berjubah panjang melintas.  Mereka adalah imam, pemimpin sinagoga terdekat. Pasar hewan berada di bagian paling belakang. Aku bersama Kaf, menggiring domba menuju tempat itu. Setelah terjual aku mampir untuk membeli gandum dan dudukan kitab taurat pesanan Abba. Joseph adalah penjual perabot rumah tangga itu. Ia dikenal sebagai seorang tukang kayu yang sederhana dan murah hati. Sesekali ia ke pasar untuk menjual hasil karya tangannya. Tak jauh dari situ, seorang gadis remaja yang jelita sedang menata barang belanjaannya. Sepetinya ia baru saja membeli sayur-mayur dan buah anggur. Umurnya kira-kira delapan belasan tahun, tiga tahun lebih mudah dariku. Ia mengangguk-memberiku hormat sambil tersenyum. Aku balik tersenyum.
            Tengah hari aku meninggalkan pasar. Kaf terlihat lelah menarik gerobak gandum. Jalannya pelan terseok-seok. Kadang ia mendengus memintaku beristirahat. Kemudian aku meniggalkannya sebentar untuk mencari minum. Di pinggir kampung Nazaret terdapat sebuah sumur tua, tempat dimana para penghuninya mengambil air. Seorang perempuan muda sedang menimba air sementara seorang wanita tua dan anak kecil menadahkan buyung untuk mengisi air. Sesekali mereka bercengkerama dan meledak tertawa. Aku mendekati sumur itu dan meminta air. Perempuan muda itu memberiku air dari sebuah buyung kecil miliknya.
            “Terima kasih” ucapku penuh rasa lega.
Ia menoleh, mengangguk dan memberiku hormat sambil tersenyum. Aku kaget, karena perempuan muda itu adalah gadis remaja jelita yang kutemui di pasar. Ia kembali mengangguk, memberiku hormat sambil tersenyum dan meninggalkan sebuah buyung kecil berisi air. Ia tahu Kaf butuh minum. Apalagi perjalananku masih cukup jauh. Aku sempat tertegun, kemudian balas mengangguk dan memberinya hormat. Gadis ini adalah satu-satunya orang yang pernah menghormatiku seperti ini. Sebagai orang asing, apalagi keturunan Babel, keluargaku adalah orang kedua di Nazaret. Lihat saja perlakuan Rohas, anak imam kepala itu, yang selalu memanggilku orang asing. Demikian juga para tetangga yang selalu mengejek kami sebagai keluarga penyembah babon.
            Abba membantuku menurunkan gandum. Belum sempat aku selesai makan, ia sudah mengingatkanku untuk membawa persembahan ke sinagoga esok hari. Sinagoga adalah tempat yang paling tidak kusukai. Bukan karena kami telah dianggap orang asing, bukan pula karena kami tidak mau beribadat ala Yahudi. Tetapi karena kelakuan para imam sinagoga yang sama sekali tak menyenangkan jemaat. Mereka selalu ingin dihormati padahal mereka sendiri tak pernah menunjukan rasa hormat sedikitpun kepada orang lain. Mereka selalu mendapat previlese khusus, selalu ingin duduk di tempat terhormat dalam acara-acara resmi, suka memakai jubah panjang kemanapun mereka pergi agar mudah dikenal orang, memeras persepuluhan sinagoga, dan selalu memilih domba persembahan jemaat yang tambun untuk dirinya sendiri. Bagiku mereka tak lebih dari perampok yang bersembunyi di balik jubah. Makanya aku selalu mencari seribu satu alasan untuk tidak ke sinagoga pada hari sabat. Namun perintah Abba tak bisa dilawan. Pagi itu, dengan berat hati aku meniggalkan rumah menuju sinagoga sambil menggiring dua ekor domba jantan yang tambun. Belum sempat aku masuk ke sinagoga, tampak beberapa anak berkerumun sedang mendengarkan sesuatu. Makin lama makin banyak saja yang berkerumun. Sepertinya mereka terpesona dengan ajaran dan cerita seseorang yang berada di tengah kerumunan itu.
            “Ah…paling Rohas yang suka mencari perhatian” pikirku.
            “Hei!! Tidakkah kamu mau mendengar ajarannya?” teriak seorang anak kepadaku.
Aku mendekati kerumunan itu. Suaranya sayup-sayup ditelan teriakan anak-anak lain yang sedang berlari.  Mataku mencoba menerobos kerumunan itu. Suaranya bukan suara Rohas. Bukan pula suara seorang imam yang kukenal. Bahkan bukan suara seorang laki-laki. Dari ajarannya terdengar sejarah kelam bangsa Israel. Ia juga mengisahkan beberapa bagian penting dari Taurat dan perjuangan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir.  Kemudian ia menutup ajarannya dengan Taurat Musa. Anak-anak mengangguk—mengerti kemudian dengan lancar menyebutkan sepuluh perintah Allah. Aku kembali tertegun. Aku mengenal wanita muda ini. Dia adalah gadis yang baik hati itu. Ternyata ia tidak hanya baik hati, tetapi juga cerdas dan menguasai sejarah bangsa Israel.
            “Zebedus!!” Ia memanggilku dengan sopan kemudian ia berdiri.
            “Abba adalah orang yang taat beragama. Ia selalu setia mengikuti pangajaran di sinagoga pada hari sabat.  Ia suka menolong dan baik hati. Ia seringkali menceritakan engkau, tentang kehebatan dan kerja kerasmu menggembalakan kambing-domba di padang. Ada apa dengan Abba ? » tanyanya kepadaku.
Aku kaget bukan kepalang. Dari mana ia tahu namaku. Bahkan ia tahu semua tentangku.
            “Abba baik-baik saja” jawabku singkat.
            “Syukurlah kalau begitu. Abba selalu mampir ke rumah selepas beribadat dari sinagoga. Mampirlah kalau kau mau” ia mengangguk memberi hormat sambil tersenyum kemudian meninggalkanku.
***
            Malam itu, aku ceritakan semuanya kepada Abba. Ia setia mendengarkan tanpa sedikitpun menyelaku. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang sangat keibuan itu. Menurutku, gadis itu bukan gadis desa biasa. Ia cantik, cerdas, saleh, rendah hati dan selalu tersenyum menyalami orang, bahkan yang tak dikenalnya sekalipun.
            “Zebedeus!! Kau jangan bilang bahwa kau jatuh hati padanya. Dia tak pantas untukmu. Dia adalah putri terhormat di Nazaret. Orang tuanya sangat saleh dan patuh pada Taurat Musa. Dari mereka aku selalu belajar tentang cinta kasih, menghargai orang asing seperti kita, dan arti Taurat Musa yang sebenarnya. Mereka juga selalu mengajari putrinya tentang kebajikan dan tentang Yahwe yang Maha Kasih. Jadi, sangat jauhlah perbedaanya kau dan dia. Lebih baik kau pikirkan kambing-dombamu itu. Jangan mimpi kau Zebedeus ! » Abba mengingatkanku.
Benar apa yang dikatakan Abba. Seorang gembala tak pernah mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Mereka hanyalah teman sekelompok hewan di padang. Jujur, aku memang kepincut ketika bertemu dengannya di sumur kemarin. Dia yang membuatku merasa nyaman tinggal di kampung ini. Parasnya selalu mempesonakan kedamaian dan kasih sejati. Belum sempat aku bertanya, Abba melanjutkan.
             “Gadis itu adalah Maria. Putri dari Anna dan Yoakim. Ia sudah bertunangan dengan seorang tukang kayu yang bernama Joseph. Jadi, jangan kau pikir dia masih sendiri” jelas Abba kepadaku.
            “Oh..begitu” balasku singkat. Joseph, pria tukang kayu yang hampir 30 tahun itu adalah tunangannya. Selama ini Maria berpacaran dengannya. Sebenarnya, aku mengenal Joseph dengan baik, terutama karena Abba sering membeli perabot rumah tangga karyanya.
            “Joseph memang lebih pantas mendapatkan Maria” pikirku.
            Sebulan kemudian, ketika Kaisar Agustus memerintahkan untuk mengadakan sensus penduduk, aku bertemu Joseph dan Maria sedang mencari tunggangan. Aku melihat Maria sedang mengandung. Mereka juga hendak mendaftarkan diri di Yerusalem. Akhirnya kupinjamkan Kaf, keledai miliku satu-satunya.  Belakangan kutahu bahwa Maria sedang mengandung Immanuel, Yesus Kristus Putra Daud. Aku mendapatkan informasi rahasia ini dari teman-teman gembala di Betlehem yang ikut mendampingi Joseph dan Maria ketika melahirkan Yesus.
            Aku bangga telah bertemu Maria. Wanita berparas elok, cerdas, saleh, sabar, dan rendah hati. Aku telah bertemu ibu seorang raja baru. Bukan hanya aku, tetapi juga Kaf, keledai yang selalu kusebut dungu itu, juga bangga telah memberi Maria tumpangan pulang-pergi ke Yerusalem.
            ”Maria memang pantas menjadi ibu seorang Raja” pikirku.


Kekagumanku pada Maria. Kupersembahkan khusus bagi para legioner dan pengagum Maria.
(cerpen ini sudah diterbitkan di Majalah Rohani “HIDUP”)
Rawa Domba, Januari 2010.

0 komentar:

Blogger Template by Blogcrowds