Awas!!! Itu Hanya Tipuan


Aku menangis, kawan
Melihatmu terkapar dalam bayang-bayang
Menahan jantungmu yang enggan berdegup
Menyaksikan paru-parumu yang tak seceria dulu
Engkau korban kebohongan massal

            Awas!!! Itu hanya tipuan
            Pria memang punya selera
            Tetapi bukan selera murahan
            Perubahan itu memang perlu
            Namun jangan ke arah yang keliru
            Jangan bilang ‘Enjoy aja’ dengan tipuan
            Engkau butuh napas, kawan

Dia bukan napasmu
Engkau hanya terjerat kata-kata manisnya
Nyatanya hambar tak berwarna
Ia tak seindah kata-katanya
Ia tak secantik puisi-puisinya
Ia lebih tajam dari sembilu
Ia lebih panas dari bara penempa pedang
Awas!!! Itu hanya tipuan


Pesan (anti rokok)
Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi, kanker paru-paru, dll. Iklan-iklan rokok yang hebat hanyalah tipuan belaka. Jangan terjerat—itu selera murahan.

Catatan:
Pelakon hanya mengelilingi dekorasi yang ada pada  puisi pertama (Puisi: Engkau adalah Napasku) .Tataplah dengan saksama segala  yang ada di sekitar pelakon pertama (dalam puisi "Engkaulah Napasku)". Pelakon pertama dibiarkan tertidur di sekitar dekorasi pada puisi pertama. Kesannya bahwa ia terkena serangan jantung.Yakinkan dia bahwa merokok memang berbahaya.


Created by; gusty p.

'Engkau adalah Napasku ' (puisi)


Yang kupuja bukan wajahmu
Yang kubangga bukan tawamu
Kuterkesima bukan karena tubuhmu
Hembusanmu menghidupkanku

            Engkau masuk ke sela rongga dadaku
            Menggugah jutaan saraf-sarafku
            Menggentarkan nadiku untuk bekerja
            Memberi susu hangat bagi ideku
            Melahirkan deretan kata yang tergurat indah

Aah.. engkau memang napasku
Tak terbayang kalau engkau tak hadir lagi
Tak ada lagi puisi-puisi indah
Tak ada lagi warna dalam karyaku
Yang tersisa hanyalah tubuh kaku yang tak berdaya
Menahan hambarnya rasa dan masa
Jangan! Jangan! Jangan tinggalkan aku
Engkau adalah napasku

Pesan:
 Rokok, bagi sebagian orang adalah sumber inspirasi. Mereka merasa dan berpikir bahwa tanpa rokok semuanya terasa mati, kaku, dan hambar. Bagi mereka, rokok adalah napas hidup.
Catatan;
 Letakkan sebuah kursi di tengah panggung dan penuhi sekelilingnya dengan bungkusan rokok, puntung, asbak, uang, yang diatur berserakkan dan taruhlah baju pelakon di sandaran kursi sehingga pelakon hanya memakai baju dalam. Sambil mendeklamasikan puisi, isaplah sebatang rokok yang menandakan nikmatnya merokok. Siapkan juga pena dan buku untuk menulis sesuatu sebagai hasil inspirasi dari rokok.

Created by; gusty p.

Laskar Pelangi


Engkau menggugah sanubari
Mengetuk nurani
Merekam masa
Saat aku tak berdaya
            Laskar pelangi
`          Engkau bukan buangan
            Hentakmu menggema
            Mengingat kisah
            Saat aku mengasah
Laskar Pelangi
Engkau memberi diri
Bagi cipta rasa haru pesona
Melawan zaman
Dalam bayang-bayang yang tak mengarah
Inspired by L.Pelangi movie.
10 nov. ‘08
           
Pesan:
Film ini sangat menyentuh saya, situasinya hampir sama dengan beberapa puluh tahun silam. Tokoh Lintang sama dengan seseorang yang paling dekat dengan saya yang punya cita-cita hebat, cerdas, mendapat beasiswa di SMP dan SMA tetapi masalah menghadang. Puisi ini kupersembahkan buatmu: VITALISA.

Kupuja Aku Sadar-Mu



Hadir-Mu menghentak jagad
Membakar amarah para penguasa
Melawan zaman yang semu
Hatiku bertanya mengapa
Jawab-Mu tanyalah penguasa
            Kupuja Aku sadar-Mu
            Yang tak hanya bijak berkata
            Melawan mata-mata yang malu terkapar
            Yang tak menahan celaan kebenaran
Engkau memberi harapan
Bagi mereka yang dihantam zaman
Menahan hambarnya masa
Santapan mereka segala zaman
Kupuja Aku sadar-Mu

Pesan;
Aku sadar adalah jiwa yang menghidupi tubuh—segala tindakan, tutur kata, dan cara hidup Yesus sendiri. Kehadiran Yesus membuat gentar kursi para penguasa, raja, ahli-ahli taurat, orang-orang farisi, dan pemuka=pemuka agama.  Kenyamanan mereka diusik dengan hadirnya Yesus.

Oleh:  GUSTY P.
“Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, manusia takut akan sebuah kepastian. Sesuatu yang tak berhenti mengejarnya sampai di sudut manapun di dunia ini. Sesuatu yang pasti, menakutkan, dan yang tak dapat dielak itu bernama Kematian”.
Kawan! Kau pasti tahu seorang konglomerat yang paling tajir di republik ini. Sebahagian melihatnya sebagai orang paling berjasa yang membangun negara. Tak tanggung-tanggung, mereka menyebutnya pahlawan. Yang lain lagi mengenalnya sebagai orang paling korup yang memeras rakyat. Seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan vampire, mereka menyebutnya. Setiap orang punya pendapat sendiri tentang Pak Tua itu. Tetapi satu yang pasti, kekayaannya tak terhitung. Tanahnya dari Sabang sampai Merauke. Perusahaannya berdiri kokoh di mana-mana. Namun kini ia telah mati. Mati begitu saja. Tak ada yang bisa menghadang kematiannya. Bahkan harta segunung sama sekali tak berkutik ketika kematian menjemputnya. Ia mati seperti Harimo, brandal Pasar Rawa-Rawa yang dikenal “mental peluru dan tak mempan pedang”. Brandal itu mati bodoh, tersengat listrik di kakus rumahnya. Dengan sedikit air mata. Diiringi doa pura-pura. Dan selembar kavan membalut tubuhnya yang kaku.  
Mati kawan! Ya..mati! Mati tak mengenal siapapun. Mati tidak kompromis. Mati tak bisa diajak KKN. Mati tak mengenal derajat dan martabat. Mati tak mengenal pintar dan bodoh. Kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata, tua atau muda, cantik atau yang bertampang buruk. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kita diciptakan untuk mati. Hidup adalah sebuah penantian untuk mati. Apa yang kita lakukan di dunia selama hidup  hanya untuk  mengisi waktu luang sebelum dijemput kematian. Jatuh cinta, seks, menikah, berpesta ria, merayakan kesuksesan dalam studi, sepak bola, bernyanyi, studi banding ke luar negeri, dan lain sebagainya, hanyalah sekedar basa-basi  sebelum sang kematian datang. Mati tak mengenal ruang dan waktu. Kematian bisa datang kapan dan di manapun. Tak ada yang bisa mengelak. Aiii….mengerikan!
  Tetapi ada yang menghibur diri.
“Kita akan hidup lagi. Di dunia lain. Kehidupan kedua. Bersama Seorang Pengendali kematian. Tetapi, semuanya tergantung bagaimana kita hidup di dunia ini. Yang hidup baik akan tinggal bersama Sang Penguasa Kematian. Yang korupsi dan selalu hidup buruk akan dipanggang dalam api membara”. Hmm…kata-kata yang selalu menjadi isi khotbah khotib mushola dekat rumah.
Namun, tak ada satupun yang tahu seperti apa dunia kedua itu. Karena tak seorangpun pernah pergi dan kembali dari sana.  Meskipun begitu, tak banyak orang yang berbuat baik. Korupsi malah makin meningkat. Kekerasan semakin bertambah. Membenci orang lain seperti sebuah kewajiban. Malahan banyak yang melarang untuk berdoa kepada Sang Penguasa Kematian.  Tempat berdoa dipaksa tutup. Aneh…! Sungguh aneh!
Kematian datang begitu saja, seperti pencuri di malam hari. Lihat saja Babe, pengusaha kos-kosan yang ditimpa pohon lalu mati. Sementara mengendarai sepeda motor menuju kota untuk mengikuti wisuda anak satu-satunya. Lain halnya dengan Harun, guru Sekolah Dasar yang terantuk sepulang sekolah dan sekali mengerang kemudian mati. Bahkan ia sempat berbincang-bincang denganku sebelum peristiwa itu. Berbeda dengan Opa Ngatio yang sudah bertahun-tahun sakit. Keluar-masuk rumah sakit, tapi tak kunjung mati. Hartanya sudah tergerus. Kini yang tersisa hanya sebuah sepeda kumbang tua yang diparkir di belakang rumahnya. Setelah kematiannya, banyak orang bilang bahwa ia pantas mati. Sudah tua, sakit-sakit pula. Bahkan ia sendiri selalu merindukan kematiannya.. Tetapi ada banyak orang di negeri ini yang dibiarkan mati karena orang lain menginginkannya. Gas LPG gratis. Sejenis bom legal yang sengaja dibagi-bagi untuk mendatangkan kematian. Di satu sisi kita takut akan kematian, tetapi di lain sisi kita seperti merindukannya.
Baca Koran! Nonton TV! Semuanya mewartakan kematian. Cerita tentang kematian saudara-saudaraku di Wasior, Mentawai, dan Yogyakarta.  Wasior tak pernah mengira bahwa semuanya akan berakhir dengan longsor mengerikan. Serentak diterjang longsor lalu mati seketika. Di Mentawai air laut mengamuk menenggelamkan rumah dan menghanyutkan banyak orang. Berbeda lagi dengan di Yogyakarta, kota pelajar dan kota wisata. Gunung ‘batuk’ (meletus) tak kunjung henti, menghamburkan awan panas yang memanggang apapun, juga manusia. Peristiwa yang me-masygul-kan hati orang banyak. Ada yang mati terlentang. Ada yang sementara berjongkok dan bersembah sujud. Ada pula yang mati saat lari dikejar kematian. Semuanya terjadi begitu saja. Tak ada yang bisa menghadangnya. Peristiwa yang membuat huru-hara hebat. Tetapi aneh, pengurus negeri ini malah leha-leha berjalan-jalan ke negeri Yunani dan Italia. Aku tak habis pikir, mungkinkah mereka tak tahu semua peristiwa ini? Jangan tanya padaku, tanya sama mereka sendiri. Sadis!
Aku merasakan ketakutan yang luar biasa ketika bertemu dengan kematian. Ia susah diajak bicara. Bahkan ketika sesekali kutanya bagaimana ia tega melakukan semua ini. Ia hanya  menggeleng-geleng. Diam, tak mengatakan sepatah katapun tentang dirinya. Apakah ia sendiri juga tak mengerti ketika melakukan semua ini? Apakah ia seperti anjing penjaga yang selalu siap menerima perintah tuannya? Bagaimana mungkin ia sendiri tak tahu-menahu apa yang dilakukannya? Terakhir aku memaksanya bersuara. Tetapi ia tetap saja bungkam. Seperti memberi isyarat “jangan tanya padaku, tetapi tanyalah ‘orang’ yang menyuruhku. Aku datang seperti perampok yang menunggu tuan rumah tidur dan terlengah. Sekali ada kesempatan, tak akan kusia-siakan”.
Aku sudah lama merenung tentang semua ini. Bahkan sejak saat saudara-saudaraku di Aceh diterjang tsunami. Semakin aku merasa gagah dan pintar, aku semakin merasa perlu mencari arti semua perstiwa ini. Tak ada yang memberiku jawaban pasti. Bahkan khotbah khotib mushola yang kuceritakan tak pernah membuatku tenang. Tetapi akhirnya aku menemukan sendiri jawabannya. Tentang kepastian akan pencarianku. Tentang ketakutan akan sebuah kepastian, tentang kematian. Di depan kematian, kita bukanlah apa-apa. Harta kekayaan, jabatan dan kekuasaan, kecerdasan yang luar biasa, gagah ataupun cantik, semuanya membisu ketika berdiri di depan kamatian.  Kematian mangasah hati dan nuraniku untuk mengakui sesuatu “Yang Lain” yang mempunyai kuasa akan kematian. Mungkinkah itu yang kita sebut-sebut sebagai ‘Tuhan’?

"Sebuah refleksi atas peristiwa kematian"
Jakarta, 26 Oktober 2010

"Geng dari Tarsus" (cerpen)


By Gusty P.
           Aku hidup dalam keluarga dan lingkungan desa yang harmonis serta dididik dalam tradisi Yahudi yang kental. Hampir tiga kali seminggu aku belajar taurat di rumah Hanai dekat Sinagoga. Hanai adalah guru taurat terbaik yang kukenal. Dari beliau aku belajar banyak hal tentang arti taurat dan bagaimana memaknainya dalam kehidupan sehari-hari.           Kampungku tepat berada di bawah kaki bukit pegunungan Libanon. Di depannya terhampar dataran luas sejauh mata memandang.  Di situlah hidup kami bergantung sepenuhnya. Dataran itu adalah tempat hidup bagi hewan gembalaan sebagian besar orang di kampungku, termasuk punya orang tuaku. 
***
           Subuh, sehari sebelum sabat, terdengar jeritan mengerikan dari kampung tetangga. Aku tersentak bangun dan berusaha mengintip dari ventilasi jendela rumah. Dari kejauhan tampak asap membubung tinggi dan pancaran nyala api yang menghanguskan. Sepertinya sebuah rumah hangus terbakar.
            “Mereka diserang kawanan perampok” terka Delfos, saudara sepupuku, yang kebetulan malam itu menginap di rumah.
           “Tak mungkin Delfos. Kau jangan mengarang”. Aku mambantah.
***
           Tiga hari kemudian, seorang pemuda datang membawa kabar dukacita. Ia menceritakan semua yang telah terjadi di kampungnya.
           “Mereka datang tiba-tiba. Mereka membunuh Baltison. Mereka menyeret istrinya dan kemudian membakar rumahnya” kisah pemuda itu berantakan.
            “Mereka hanya empat orang dan menamakan diri “Geng Dari Tarsus”. Tambahnya menutup kisah tragis itu.
           Aku sedikit mengenal Baltison. Ia beberapa kali diceritakan guru tauratku sebagai orang yang baik hati, suka berbagi, sedikit berpendidikan, suka menanyakan taurat, bahkan tanpa segan mengkritik. Akhir-akhir ini ia sedang bergabung dengan sebuah aliran baru yang berasal dari daerah Galilea.
           Hari itu adalah awal dari segala kejadian mengerikan. Dua minggu kemudian, aku mendengar khabar bahwa geng itu baru saja membantai sebuah keluarga pengikut aliran baru di Kapernaum. Sebuah keluarga, pengikut aliran itu dibakar hidup-hidup.
***
           Suatu hari, seorang musafir dari Yerusalem berkisah tentang geng itu.“Geng itu memang sangat mengerikan” musafir  itu memulai ceritanya.
            “Geng itu memiliki seorang pemimpin. Posturnya tinggi-kekar seperti seorang gladiator. Ia dan pasukannya selalu memakai baju jirah yang tak mempan pedang. Kepalanya selalu ditutupi topi kehormatan seorang perwira perang. Pedangnya terbuat dari baja pilihan dan ditempa orang-orang terlatih. Ia selalu menunggangi kuda jantan yang kuat dan terawat. Aku yakin ia sering berperang dan sudah mengalahkan ribuan pasukan musuh”. Musafir  itu diam sejenak, memandang orang di sekitarnya yang dengan antusias mendengar ceritanya. Tak ada satupun yang berani menyela. Aku sesekali menelan ludah membayangkan kengerian geng itu.
           “Ia lebih kejam dari pembunuh manapun. Bahkan  orang tak berani mengangkat muka atau menginjak bayangannya jika berjumpa. Namun aneh bagiku karena setiap sabat ia selalu mampir ke sinagoga untuk berdoa.  Bahkan banyak orang yang bersaksi bahwa kepala geng itu sangat pandai berbahasa Yunani dan Latin. Kadang-kadang ia menjelaskan isi taurat” musafir itu menutup ceritanya sambil melewati banyak orang lalu pergi.
Tetapi belum sempat kami berbincang-bincang mengenai geng itu, ia menoleh ke belakang dan memberi pesan terakhir.
“Berjaga-jagalah, kapan saja ia bisa singgah di rumahmu”.
***.
Tak pelak, seminggu kemudian geng itu melintas di kampungku.
           “Mereka sedang lewat!” teriak seorang anak sambil berlari menyembunyikan diri.
           Semua orang meninggalkan  pekerjaannnya, masuk ke dalam rumah dan menyembunyikan diri. Tak bedanya aku. Bergegas lari ke dalam rumah, kemudian mengintip, ingin melihat seperti apakah geng yang diceritakan banyak orang di Siria dan Palestina itu. Kampung itu mendadak hening seperti kampung mati tak bertuan. Hanya sesekali terdengar ayam berkokok dan suara binatang peliharaan lainnya. Napasku satu-satu. Jantungku berdebar,  merinding, keringat dingin penuh ketakutan. Kulihat Kinoy, anjing jagoan ayahku yang seringkali berhasil mengalahkan singa di padang duduk tepat di sampingku. Suara langkah kaki kuda sangat jelas terdengar. Sesekali meringkik dan mendengus.
           “Heiii! Apakah ada orang disini?” suaranya menggema menerobos setiap lorong di kampung itu. Kinoy meringis ingin menggonggong, tapi tak berani. Aku tak tahu mengapa ia begitu takut. Sepertinya aura geng itu menakutkan.
Karena tak ada yang menyahut, kepala geng itu berjalan mendekti pintu rumahku. Aku semakin takut, darahku seolah berhenti mengalir, napasku ngos-ngosan, aku menahan napas, ingin rasanya aku lari. Belum sempat ia mengetuk pintu, Kinoy menggongongnya. Ia kaget, mundur beberapa langkah, tangannya dengan sigap menempel di gagang pedang.
“Apakah ada orang di dalam?” teriaknya jengkel.
Karena takut ia naik pitam, aku bergegas keluar. Keringatku bercucuran, kakiku hampir tak kuasa menumpu badanku yang gemetar. Aku tertunduk, tak mampu mengangkat muka melihat wajahnya.
   “Ya tuan” jawabku singkat.
   “Siapa namamu?” tanyanya geram.
   “Andreas tuan” balasku takut.
  “Andreas, apakah engkau tahu di mana jalan ke Damsyik?” tanyanya dengan rasa ingin tahu.
           Dengan senang hati kutunjukan jalan ke kota itu. Di Damsyik banyak orang telah menjadi pengikut aliran baru yang dimusuhi geng itu. Hal itulah yang membuat geng itu bergegas ke kota itu. Setelah mereka meninggalkan kampungku dan mamacu kuda ke Damsyik, aku membayangkan kematian massal yang mengerikan yang akan menimpa orang-orang Damsyik. Geng itu akan membunuh mereka habis-habisan. Sebenarnya, ingin sekali aku memberitahukan orang-orang Damsyik tentang kedatangan geng itu. Aku mengharapkan agar mereka segera mengungsi atau menyembunyikan diri. Tapi sia-sia, karena kuda mereka lebih cepat dan terlatih.
***
           Hari ini genap tiga bulan aku tak mendengar kabar apapun tentang geng itu lagi. Tak ada tragedi pembunuhan yang mengerikan. Bahkan belakangan aku mendengar khabar tentang seorang pewarta keliling, seorang pengikut aliran baru. Semua orang mengagumi ajarannya, walaupun seringkali banyak pemuka agama yang membencinya. Pengikutnya semakin banyak. Ia sering diceritakan orang sebagai pemimpin berkharismatik yang pintar menarik perhatian orang. Ia telah menjadi buah bibir banyak orang di Siria dan Palestina. Aku sempat bertanya dalam hati, apakah ia tahu tentang keberadaan geng itu? Apakah ia tidak takut dengan geng itu?
           Kata orang, ia sering ke Antiokhia bahkan sampai berhari-hari untuk mengajar, mengurus pengikutnya bahkan untuk mejelaskan segala soal-jawab tentang taurat dengan pemuka-pemuka agama.  Tanpa menunggu waktu yang lama, aku segera berangkat ke Antiokhia. Dua hari kemudian aku sampai di Aktiokhia dan mendapati pria itu sedang mengajar banyak orang. Dia sangat luar biasa. Pengajarannya mengagumkan. Karena penasaran, aku  berani mengangkat tangan di tengah kerumunan orang banyak dan bertanya kepadanya.
           “Maaf guru. Aku ingin bertanya satu hal. Apakah engkau tak pernah mendengar tentang “Geng dari Tarsus” yang menakutkan? Bagaimana pendapatmu tentang geng itu?”.
Ia tertunduk seperti berusaha merenungkan pertanyaanku, kemudian menarik napas panjang dan mulai berkisah.
    “Ya, dulu kepala geng itu memang menjadi hamba dosa yang selalu memuaskan hati para penguasa yang diktator. Dia ditakuti banyak orang dan dia bangga dengan itu.  Tetapi sejak kejadian itu, dia berbalik dan memberitakan Injil Yesus Kristus yang hidup. Yesus telah menampakan diri kepadanya ketika hendak ke Damsyik. Sangat berdosalah ia kalau tidak memberitakan Injil”. Pria itu sejenak berhenti dan mengamati reaksi orang terhadapnya. Kemudian dengan tegap berdiri dan dengan lantang ia menutup pengajarannya hari itu.
“Aku, Paulus, kepala geng yang engkau maksudkan itu. Sekarang aku telah menjadi milik Kristus yang bangkit untuk memberitakan Injil”.




"Sepenggal kisah tentang Rasul Paulus"
(cerpen ini sudah diterbitkan di Majalah Rohani "HIDUP", 17 Oktober 2010)

Blogger Template by Blogcrowds